KUKAR BUKAN ENDEMIK FILARIASIS

“Hasil Survai Terakhir Hanya Ditemukan Tiga Kasus Kaki Gajah atau 0,6 persen”

Kadinkes Kukar


koen1
TENGGARONG- Kutai Kartanegara memastikan, bahwa daerah ini bukan termasuk wilayah Endemik penyakit Kaki Gajah atau Filariasis, sebagai mana klaim Kemenkes RI dari hasil Survey 2005  yang menemukan kasus sebesar 26 persen dari total sampel yang disurvey. Bantahan ini dinyatakan oleh Kadinkes Kukar setelah pihaknya melakukan survai ulang beberapa waktu lalu yang hanya ditemukan tiga kasus penderita Kaki Gajah atau 0,6 persen.

“Kukar bukan wilayah Endemik Filariasis, sebagaimana hasil temuan Kemenkes 2005, berdasarkan survey yang kami lakukan Oktober lalu, masih dibawah 1 persen dari total sampel, hanya 0,6 persen atau hanya ditemukan tiga kasus saja. Survey dilakukan di 30 lokasi se-Kukar, “ kata Kadinkes Kukar drg Koentijo Wibdarminto, melalui Plh Kabid Penanggulangan Penyakit dan Penyegatan Lingkungan(P2PL) Triatmo, beberapa hari yang lalu diruang kerjanya.

Dia menambahkan, karena kasus yang ditemukan hanya 0,6 persen saja, maka Dinkes Kukar tidak perlu mengambil kebijakan pengobatan secara massal. Tiga penderita penyakit Kaki Gajah ditemukan di tiga kecamatan, Anggana, Kahala dan Kembang Janggut.

Pemberian obat bagi penderita penyakit Filariasis cukup diminum sekali setahun, dengan jangka waktu lima tahun. Obat Kaki Gajah tidak dijual secara umum, namun disediakan pemerintah,  karena bagian dari program khusus pemerintah kepada masyarakat.

koen3

“Bagi penderita Kaki Gajah, hanya meminum obat DEC dan Albendazole yang disediakan oleh pemerintah melalui Puskesmas terdekat.  Biasanya setelah pasien minum obat kaki gajah, timbul rasa nyeri atau pusing namun dapat diatasi dengan minum Paracetamol. Penderita dianjurkan hanya minum obat setahun sekali, misal 1 November tahun ini minum obat, maka 1 November tahun depan harus minum obat lagi, rutin sampai lima tahun, “ jelas Triatmo.

Untuk mengenali penyakit Kaki Gajah, Triatmo menjelaskan, bahwa Kaki Gajah disebabkan oleh Cacing Filaria yang ditularkan melalui nyamuk. Jika masyarakat mengidap penyakit ini, dapat menyebabkan kecacatan menetap, stigma sosial, hambatan Fisiologis dan kerugian ekonomi, sehingga dipastikan dapat menurunkan kualitas SDM.

koen2

Solusi Jangka panjang, dengan melakukan pengobatan secara teratur, membiasakan Hidup bersih dan sehat bagi masyarakat, dan kerjasama lintas program dan sektor untuk penanggulangan kasus ini, maka diyakini Filariasis dapat dieliminasi.

“Jika melihat penderita kaki gajah, bagian organ tubuhnya biasanya kaki menjadi besar, itu merupakan Cacing Filaria yang semakin berkembang karena tidak diobati, jika pasien meminum obat, maka Cacing Filaria didalam tubuh akan mati secara perlahan“ jelasnya.(Rian/Wa)

UJI COBA QUICK WINS SISTEM MANUAL RUJUKAN DI TIGA PUSKESMAS DAN RUMAH SAKIT

“Hasil Uji Coba Menjadi Bahan Kajian Penyempurnaan Sistem”

 rujuk1Tenggarong : Permasalahan kematian ibu dan bayi masih menjadi perhatian utama bagi Kutai Kartanegara. Hal ini yang menjadi perhatian Tim Manajemen Perubahan Dinkes Kukar melakukan koordinasi dengan penanggungjawab program Pelayanan Kesehatan untuk memulai penerapan Sistem Manual Rujukan Maternal Neonatal yang digadang mampu mengatasi persoalan diatas dan menjadi upaya prioritas pada tahun 2016 ini. Ujar  Imam Pranawa Ketua Tim Manajemen Perubahan (MP) Dinkes Kukar saat ditemui diruang kerjanya (21/10). Lanjutnya Tim MP menyepakati agenda Quick Wins Tahun 2016 Dinkes Kukar adalah menyukseskan penerapan Sistem Manual Rujukan Maternal Neonatal yang pada awalnya diujicobakan untuk tiga puskesmas serta rumah sakit di Kukar.

Senada yang disampaikan Kabid Yankesmas Ismi Mufidah bahwa Sistem Manual Rujukan ini diharapkan menjadi sistem yang dapat mengatasi permasalahan kematian ibu dan anak, untuk itu penerapan sistem ini diperlukan komitmen yang kuat pihak-pihak yang bekerja sama mulai dari puskesmas dan jejaringnya sampai Rumah sakit  dan BPJS.

Ismi menjelaskan Sistem Manual Rujukan adalah sistem rujukan khusus untuk kasus maternal dan neonatal yg berkaitan dgn diagnosis, terapi, tindakan medik. yang kegiatannya berupa pengiriman pasien, rujukan bahan/spesimen utk pemeriksaan laboratorium, dan rujukan ilmu pengetahuan tentang maternal & neonatal.

rujuk2

Dokumen manual rujukan ini nanti menjadi pedoman bagi fasilitas pelayanan kesehatan dan petugas kesehatan di berbagai jenjang tentang terselenggaranya upaya pelayanan maternal dan neonatal pada tingkat pelayanan kesehatan dasar dan rujukan secara berjenjang, terpadu, efektif dan efesiensi dalam rangka penurunan AKI dan AKB.

Untuk mempercepat tujuan dari Quick Wins Sistem Manual Rujukan Maternal Neonatal ini, maka Ismi menjelaskan akan dilakukan uji coba penerapan pada Puskesmas Kota Bangun, Samboja dan Loa Ipuh dengan masing-masing rumah sakit rujukannya yaitu Rumah Sakit Dayaku Raja, AM Parikesit dan Abadi Samboja.

rujuk3

Setiap pasien maternal dan neonatal dari Puskesmas dan jejaringnya akan dilakukan identifikasi sesuai kategori dan dirujuk sesuai dengan jenjang rujukan ke Puskesmas PONED atau Rumah sakit PONEC, tambahnya.

Dalam kerjasama penerapan sistem ini, ia berharap pihak terkait sudah mempersiapkan alur rujukan terencana maupun emergensi secara cepat, tepat, efektif dan efisien untuk mengurangi kepanikan dan kegaduhan.

Prinsip lain yang harus disiapkan oleh Tim Manual Rujukan ini adalah Penyelenggaraan pelayanan maternal neonatal yang menyeluruh dan terintegrasi sesuai prinsip continuum of care disertai sumber pembiayaan yang jelas pada setiap jenis dan jenjang pelayanan, Adanya penjenjangan dan regionalisasi fasilitas pelayanan kesehatan yang meliputi RS PONEK, RS Jejaring, Puskesmas PONED, Puskesmas Non PONED dan fasilitas kesehatan lainnya (Dokter praktek umum, dokter praktek spesialis,  bidan praktek mandiri, klinik swasta, rumah bersalin ).

Hasil uji coba sistem manual rujukan maternal neonatal tahun ini menjadi bahan penyempurnaan penerapan pada tahun mendatang, disamping perlu penguatan pada regulasi menjadi Peraturan Kepala Daerah dalam Sistem Manual Rujukan Maternal Neonatal. (WAA)

rujuk4

KESDAM MULAWARMAN GELAR OPERASI KATARAK GRATIS DI KUKAR

“Kerja Sama Dengan Dinkes Ini  Untuk Mencegah Semakin Meningkatnya Angka Kebutaan Oleh Katarak” Kadinkes Kukar

kesdam1KUKAR : Bakti Sosial Operasi Katarak yang dimotori oleh Kesdam VI Mulawarman bekerja sama dengan Dinkes Kukar dan PT Industri Jamu Sidomuncul yang dilaksanakan di dua  Puskesmas wilayah kecamatan  Kota Bangun Kutai Kartanegara selama bulan Agustus dan September adalah bentuk kepedulian jajaran TNI kepada masyarakat yang tidak mampu guna mencegah kebutaan akibat Katarak sehingga masyarakat dapat melakukan pekerjaan dan dapat meningkatkan taraf hidup dengan selayaknya. Hal ini disampaikan oleh  Letkol Dr. Nugraha Koordinator operasi katarak didalam Pedoman Rencana Bakti Sosial Operasi Katarak Gratis Kesdam VI Mulawarman Balikpapan.

Senada yang disampaikan oleh Kadinkes Kukar, Koentidjo, pihaknya sangat menyambut baik dengan pelaksanaan operasi Katarak ini yang memang secara kasus terjadi peningkatan setiap tahun. Operasi Katarak yang dimotori oleh Kesdam Mulawarman ini sangat membantu Dinkes Kukar khususnya Puskesmas dalam mencegah angka kebutaan yang dapat dicegah akibat katarak. Ia menjelaskan Katarak adalah suatu kelainan dimanan terjadi kekeruhan pada lensa mata. Kelainan ini dapat diderita oleh orang lanjut usia, bayi baru lahir, anak-anak, maupun semua umur karena menderita suatu penyakit tertentu. Dan sampai saat ini katarak merupakan penyakit kebutaan terbesar yang dapat dicegah.

Kegiatan Bakti sosial ini dilaksanakan kurang lebih selama dua bulan, pada bulan Agustus dilakukan screening penderita dan pada bulan September 2016 pelaksanaan operasi Katarak di Puskesmas Kota Bangun dan Rimba Ayu. Tenaga medis yang menangani bakti sosial ini adalah dokter spesialis mata dari Kesdam VI Mulawarman dan dibantu oleh petugas medis dari Puskesmas setempat.

kesdam2

“Tidak semua masyarakat Kota Bangun bisa menikmati operasi Katarak Gratis ini, oleh karena pasien katarak yang ditangani merupakan warga miskin dan tidak mampu yang harus membawa KTP, Kartu keluarga dan surat keterangan tidak mampu” Imbuh Koentijo.

Adelina, Kepala Seksi Yankesdas Dinkes Kukar, selaku penanggungjawab program mengatakan bahwa kegiatan operasi Katarak Gratis ini dalam pelaksanaannya melalui beberapa tahap yaitu persiapan, kegiatan operasi dan kegiatan paska operasi. Pada tahap persiapan dilakukan screening penderita di Puskesmas Kota Bangun, setelah itu dilakukan pelaksanaan operasi katarak pada ruang khusus di Puskesmas dan selanjutnya paska operasi disarankan penderita untuk melakukan kontrol di Puskesmas pada 1 hari setelah operasi , hari ke7, ke 14 dan ke 30.

kesdam3

Sampai berakhirnya kegiatan operasi ini telah terjaring 105  penderita katarak, yang dilakukan tindakan operasi sebanyak 78 pasien dan selebihnya tidak dapat dilakukan tindakan operasi yang disebabkan oleh penyakit yang menyertai yaitu hipertensi dan diabetes mellitus. Tidak ada kejadian khusus paska operasi bagi semua pasien yang sudah ditangani oleh Tim Kesehatan Kesdam VI Mulawarman tersebut.

Ia berharap kegiatan bakti sosial ini akan dilaksanakan secara rutin di Kabupaten Kutai Kartanegara setiap tahun dengan lokasi Puskesmas atau kecamatan yang berbeda sehingga harapan penurunan kasus kebutaan akibat katarak bisa tercapai. (waa)kesdam4

KOLABORASI P3A DAN KSI, UNGGULAN PUSKESMAS SAMBOJA

“Cegah Kematian Ibu Maternal dengan Terapkan Pusat Pemantauan Persalinan Aman (P3A) Kolaborasi dengan Kader Sayang Ibu (KSI)” Yazid Kapusk Samboja

P3.1

Alur Pelayanan P3A

  SAMBOJA : Meskipun selama lima tahun terakhir diwilayah  Puskesmas Samboja tidak ada kematian ibu maternal namun bukan berarti berhenti untuk berinovasi. Untuk mengoptimalkan upaya pelayanan kesehatan ibu dan anak serta mencegah terjadi kematian ibu maternal maka Puskesmas Samboja membuat Program Unggulan yaitu Pusat Pemantauan Persalinan Aman (P3A). Program ini tidak berdiri sendiri melainkan melakukan kolaborasi dengan Kader Sayang Ibu (KSI) yang sudah dikembangkan lebih dahulu. Hal ini disampaikan Yazid Kepala Puskesmas Samboja saat ditemui dikantornya. (18/7).

Mekanisme Pusat Pemantauan Persalinan Aman (P3A)

P3A ini adalah sebuah program yang digarap oleh Puskesmas Samboja dengan mengotimalkan sumber daya internal dan kerjasama lintas sektor untuk memantau ibu dengan kehamilan minimal 37 minggu agar proses pelayanan persalinan yang dilakukan tetap aman serta memantau masa nifas. Yazid menambahkan, ia sudah menunjuk Bidan Debi sebagai koordinator P3A dan membentuk Tim P3A yang anggotanya terdiri dari dokter dan bidan baik di puskesmas maupun pusban. Tim ini juga dibekali dengan Emergency Persalinan Kit dan menetapkan pusat komunikasi antar petugas melalui nomor handphone jalur 118. Selain petugas kesehatan, Tim P3A melalui bidan desa melibatkan Kader Sayang Ibu dan Pihak Kelurahan untuk mengidentifikasi dan melakukan pemantauan sasaran.

P3.2

Ketika Bidan Debi kami temui, ia menjelaskan bahwa Program P3A ini bertanggungjawab terhadap 9 desa/kelurahan yang ada di wilayah Puskesmas Samboja, masing-masing bidan yang ada diwilyah tersebut sudah dibekali dengan motivasi dan keterampilan yang optimal sehingga mempunyai komitmen yang tinggi dalam menjalankan tugasnya.

 

Mekanisme yang dilaksanakan yaitu :

  1. Tim P3A mengumpulkan data bumil yang berumur minimal 37 minggu sampai Masa Nifas dari Pusban dan Kader Sayang Ibu di masing-masing desa
  2. Didalam P3A dibentuk beberapa Tim kecil yang terdiri tenaga dokter, bidan dan sopir yang sewaktu-waktu ada kasus emergensi persalinan di desa atau kelurahan maka Tim ini akan melakukan gerak cepat untuk pertolongan persalinan tersebut.
  3. Semua tenaga bidan yang ada di desa, mempunyai komitmen dan ketrampilan yang tinggi dalam melakukan identifikasi dan memantau kondisi pasien terkait resiko yang dialaminya, Bila resiko yang dialaminya memerlukan rujukan maka bidan setempat akan melakukan koordinasi dengan P3A selanjutnya dengan Rumah Sakit Rujukan.
  4. Melakukan evaluasi kinerja Tim P3A melalui pertemuan berkala seluruh anggota tim sekaligus melakukan assessment dan pembinaan petugas.
  5. Tim P3A melakukan koordinasi secara berkala dengan pihak kelurahan, Kader Sayang Ibu dan Corporate Sosial Responsive dari perusahaan terkait peran bantu mereka dalam gerakan pemantauan persalinan aman ini.

P3.3

Peran KSI dan Sektor Terkait :

Program P3A tidak bisa lepas dari peran stake holder kelurahan, RT, Kader Sayang Ibu dan CSR. Debi menjelaskan saat ini peran kelurahan sebagai pembina kader KSI juga membantu sarana yang diperlukan untuk proses pemantauan persalinan aman tersebut seperi ambulan desa, Kader KSI berperan melakukan identifikasi seluruh bumil dan yang beresiko tinggi serta melaporkan kepada petugas P3A terkait ibu hamil yang sudah berusia minimal 37 minggu yang merupakan sasaran dari program ini. Sedangkan CSR membantu kebutuhan yang diperlukan dalam administrasi manajemen pada Tim P3A.

Untuk mengoptimalkan kinerja Tim P3A ini, pihaknya akan mengembangkan Peta Resiko Ibu Hamil dan Masa Nifas melalui aplikasi “Google Maps”, sehingga nantinya seluruh petugas akan lebih mudah dan cepat mendapatkan informasi serta memantau perkembangan sasaran bumil dan ibu nifas tersebut. (waa)

Jpeg

Tim P3A melakukan pemeriksaan kondisi Bumil di Lokasi

INOVASI PUSKESMAS SEBULU II GERAKAN NIKAH SEHAT, JURNAL RESTI DAN KLINIK REMAJA (bagian 1)

“Dengan Beberapa Program Unggulan Puskesmas Berprestasi Sebulu II, Siap Hadapi Penilaian Tingkat Propinsi Tahun 2016”

nk1KUKAR : Puskesmas Sebulu II yang terletak di Kecamatan Sebulu merupakan salah satu Puskesmas dengan kategori pedesaan yang ada di Kabupaten Kutai Kartanegara. Bangunannya yang masih sederhana sebagian besar terbuat dari bahan kayu, namun tidak menyurutkan seluruh karyawan untuk tetap memberikan pelayanan terbaik bagi masyarakat. Rupanya upaya pelayanan yang sudah dilakukan dengan sungguh-sungguh telah membuahkan hasil dengan diraihnya predikat sebagai Puskesmas Berprestasi Tingkat Kabupaten Tahun 2016. Menurut pemantauan media ini, wajar Puskesmas Sebulu II meraih predikat tersebut oleh karena mampu membuat perbedaan dengan puskesmas lainnya dengan mengembangkan berbagai program unggulan dan menggangas beberapa inovasi. Diantaranya adalah Gerakan Nikah Sehat, Jurnal Resti dan Klinik Remaja.

Inovasi “Gerakan Nikah Sehat”

Puskesmas Sebulu II yang “dinahkodai” oleh Muhamad seorang Sarjana Kesehatan Masyarakat, dengan kepiawaian dan kesantunannya mampu menggalang semua sumber daya yang ada di Puskesmas untuk merubah jalur nikah biasa menjadi Gerakan Nikah Sehat.

Untuk merealisasikan ide Gerakan Nikah Sehat ini, Muhamad bersama seluruh stafnya  melakukan konsolidasi untuk kesiapan dan penguatan konsep yang akan diluncurkan. Kemudian melakukan rapat-rapat koordinasi dengan Camat, Seluruh kepala Desa, kepala KUA, BKBP3A dan puskesmas lain yang ada di Kecamatan Sebulu untuk membuat kesepakatan proses dalam Gerakan Nikah Sehat tersebut. Pihak-pihak terkait sangat menyambut baik inovasi program ini dan langsung diluncurkan pada awal tahun 2015. Pada dasarnya Gerakan Nikah Sehat tidak merubah prosedur adminsitrasi calon pengantin yang akan menikah, hanya saja proses yang dilaluinya ditambah kewajiban administratif bagi calon pengantin ke puskesmas untuk pendataan catin, mendapapatkan vaksin TT, pendataan catin  dan konseling persiapan kehamilan sehat serta persalinan yang aman. Setelah itu calon pengantin mendapat kartu keterangan khusus dari puskesmas yang harus dibawa ke kantor KUA sebagai kelengkapan proses selanjutnya. Pihak KUA tidak akan memproses pasangan calon pengantin, sebelum mereka mendapatkan dan menyerahkan surat keterangan khusus tersebut dari puskesmas setempat.

 

Dengan diberlakukannya proses ini, petugas puskesmas mendapatkan banyak manfaat terutama :

  1. Mendapatkan data calon ibu hamil dari seluruh wilayah kecamatan.
  2. Mendapatkan nomor kontak setiap calon pengantin
  3. Memberikan konseling tentang persiapan kehamilan yang sehat dan persalinan yang aman.
  4. Memberikan brosur atau leaflet serta buku KIA tentang bahaya dan resiko tinggi kehamilan.
  5. Memberikan nomor kontak petugas yang setiap saat bisa dihubungi oleh calon pengantin dan pasangan pengantin baru apabila mereka ingin konsultasi via telepon.

Namun bukan itu saja, ia menambahkan bahwa gerakan nikah sehat ini juga diberlakukan bagi calon pengantin yang melalui agama selain Islam dan yang melakukan nikah secara tidak resmi. Pihaknya bekerja sama dengan pendeta gereja, imam kampung dan ketua RT untuk menjaring  pasangan yang baru  menikah namun belum tercatat di Puskesmas.

nk2

Harapan Muhammad, dengan penerapan Gerakan Nikah Sehat ini, pihaknya dapat memantau  lebih awal seluruh calon pengantin dan calon ibu hamil serta melakukan rencana kunjungan bila didapatkan ibu hamil dengan resiko tinggi. Nah untuk menguatkan Gerakan Nikah Sehat ini, ia juga menggagas  program “Jurnal Resti” untuk memantau ibu hamil dengan resiko tinggi.

Inovasi “Jurnal Resti”

Program Jurnal Resti adalah program pemantauan ibu hamil yang mengalami resiko tinggi diwilayah Puskesmas Sebulu II, untuk pemantauannya petugas menggunakan media berupa papan data berisi daftar nama dan informasi lainnya tentang pasien ibu hamil dengan resiko tinggi dan peta wilayah tempat tinggal pasien tersebut.

 Bagaimana pemantauannya ? Petugas koordinator Jurnal Resti, Bidan Nita, menjelaskan setelah dilakukan pendataan bagi seluruh ibu hamil, kemudian dilakukan screening bumil yang mengalami resiko tinggi. Kriterianya meliputi usia bumil terlalu  muda atau terlalu tua, ukuran pinggul kecil, lingkar lengan atas (Lila) dibawah normal dan sebagainya.

nk3

Data bumil resti yang didapat, dimasukkan dalam papan data dan peta tempat tingggal ibu tersebut. Apabila dalam waktu satu bulan, ibu resti tersebut tidak mengunjungi tempat pelayanan kesehatan maka akan dilakukan kunjungan rumah dan memberikan motivasi kepada sasaran untuk secara rutin melakukan memeriksanakan kehamilan terkait resiko tersebut. Pemantauan akan terus dilakukan sampai ibu hamil tersebut melahirkan dan masa nifas.

Kami para bidan sangat terbantu dengan program ini,kami bisa memberikan perhatian lebih dan intens kepada para bumil restiUngkap Para Petugas Bidan.

Selain Gerakan Nikah Sehat dan Jurnal Resti, Puskesmas Sebulu lebih dahulu telah mengembangkan Klinik Remaja yang menjaring sasaran  Remaja dan Dewasa muda yang bermasalah terkait hubungan pacaran, permasalahan dengan orang tuanya dan pemakaian obat-obat psikotropika. Edisi selanjutnya akan membahas  Klinik Remaja Puskesmas Sebulu II.(waa).

nk4

DINKES KUKAR MANTAPKAN “SISTEM MANUAL RUJUKAN

br1TENGGARONG- Upaya mengatasi permasalahan dan pencegahan kematian ibu dan bayi di Kukar,  selama beberapa tahun terakhir belum membuahkan hasil yang maksimal. Angka kematian ibu bayi dan balita cukup tinggi di Kaltim, jika dibandingkan dengan Sembilan kabupaten/kota lainnya se-Kaltim.

“ Sampai saat ini angka kematian ibu hamil mencapai 18 orang, 63 bayi dan 9 Balita, ini terbilang sangat tinggi se-Kaltim, “ Kata Kadiskes drg Koentijo Wibdarminto, melalui Kasi Kesehatan Keluarga Sri Lindawati, saat menggelar pembahasan lanjutan penyusunan manual rujukan Maternal, Rabu(20/7) di hotel Grand Fatma Tenggarong.

Pertemuan penyusunan manual rujukan tersebut mengundang seluruh Puskesmas, Rumah Sakit, BPJS dan sektor terkait agar terjadi sinergitas dalam optimalisasi kegiatan operasional sistem manual rujukan yang akan dilaksanakan.

Namun Pokja Manual Rujukan ini memahami berbagai  kendala masih ditemukan, seperti, letak  geografis yang sangat jauh, minimnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, keterlambatan pengambilan keputusan dalam tindakan, dan sulitnya transportasi, bahkan masih ada saja masyarakat yang percaya terhadap pengobatan Tradisional bersifat magis yang tidak memiliki standar kesehatan sama sekali. Dinkes juga menilai penyebab lainnya adalah belum berjalannya mekanisme rujukan yang baik.

“Kita menduga, penyebab kematian ibu dan bayi ketika sakit, karena sistem rujukan ke Puskesmas dan Rumah Sakit(RS) yang masih perlu pembenahan. Nantinya, dokumen rujukan ini selesai disusun maka petugas kesehatan bisa mengantisipasi tindakan yang akan diberikan kepada pasien ibu hamil dan anak, “ ujar Linda.

br2

Target dokumen maternal selesai Nopember mendatang, sehingga sudah bisa diterima oleh petugas kesehatan, bidan, puskesmas, dokter dan aparatur desa merasa masih perlu upaya yang lebih keras dalam menekan dan meminimalisir kematian tersebut, pada tahun-tahun mendatang, melalui penguatan system rujukan berjenjang. Untuk itu pihaknya sudah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) penyusunan manual rujukan maternal Neonatal di Kukar.

“Pokja ini harus bekerja keras untuk merancang system rujukan yang menguntungkan bagi pasien, agar kematian ibu dan anak dapat diminimalisir, “ ujarnya.

Pokja perbaikan system rujukan ini bertugas, menyusun rencana kegiatan operasional, melakukan mapping sarana pelayanan kesehatan yang terkait rujukan serta menyusun draft manual rujukannya. Serta melakukan sosialisasi, uji coba dan perbaikan manual rujukan maternal neonatal. Mengembangkan mekanisme rujukan yang efektif dan efisien, dengan memperhatikan unsur utama keselamatan pasien.

Yang tidak kalah pentingnya Pokja ini juga mengembangkan jaring komunikasi data dan sistem informasi kesehatan berbasis media sosial serta kedepannya mengembangkan aplikasi informasi berbasis web. Jaring komunikasi yang dikembangkan ini , menciptakan akses komunikasi cepat antar fasyankes baik dari puskesmas sampai rumah sakit terdekat dalam situasi kegawatdaruratan persalinan. Untuk itu masing-masing puskesmas ditunjuk petugas operator yang mengendalikan setiap kasus terkait kegawatdaruratan pada kesehatan ibu dan anak.(ry/waa)

KUKAR SIAPKAN KONSEP SISTEM MANUAL RUJUKAN MATERNAL NEONATAL

IMG_20160209_144007ATASI PENYEBAB KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PENINGKATAN KECEPATAN DAN KETEPATAN TINDAKAN DI FASYANKES”TENGGARONG : Upaya mengatasi permasalahan kematian ibu dan bayi di Kutai Kartanegara selama beberapa tahun belakangan ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Selain kendala geografis, pengetahuan, keterlambatan pengambilan keputusan dan sulitnya transportasi juga disebabkan oleh belum berjalannya mekanisme rujukan yang baik. Hal ini dikatakan oleh Ismi Kepala Bidang Yankes saat memimpin rapat awal Tim Pokja Penyusunan Manual Rujukan Maternal Nonatal di RSUD AM, Parikesit Tenggarong. (5/2)ATASI PENYEBAB KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PENINGKATAN KECEPATAN DAN KETEPATAN TINDAKAN DI FASYANKES”TENGGARONG : Upaya mengatasi permasalahan kematian ibu dan bayi di Kutai Kartanegara selama beberapa tahun belakangan ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Selain kendala geografis, pengetahuan, keterlambatan pengambilan keputusan dan sulitnya transportasi juga disebabkan oleh belum berjalannya mekanisme rujukan yang baik. Hal ini dikatakan oleh Ismi Kepala Bidang Yankes saat memimpin rapat awal Tim Pokja Penyusunan Manual Rujukan Maternal Nonatal di RSUD AM, Parikesit Tenggarong. (5/2)

Read more