JAMBAN KOMUNAL DESA GAS ALAM MUARA BADAK “SOLUSI STOP BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN WILAYAH PANTAI”

gb1

Jamban Komunal Dirawa2 Laut

KUKAR : Desa Gas Alam yang terletak di Kecamatan Muara Badak adalah salah satu desa dengan predikat Desa Sehat Mandiri yang dibentuk enam tahun yang lalu. Namun bukan berarti semua masalah sudah “beres” ternyata masih banyak upaya yang harus dilakukan untuk mempertahankan status desa sehat mandiri tersebut. Salah satu masalahnya adalah kasus diare di desa ini selalu meningkat dan diperkirakan karena masih banyak masyarakat yang BAB ke rawa-rawa yang terhubung dengan laut sehingga kotoran manusia ini banyak kelihatan tergenang di air tersebut.

Melihat kondisi ini Puskesmas Muara Badak beserta pemerintah desa pada Bulan Juli yang lalu merencanakan program Stop Buang Air Besar Sembarangan melalui Pemicuan Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM)

gb2

Fasilitasi Kesepakatan Warga

Dalam kegiatan ini, pemerintah desa mengumpulkan warga dan para tokoh masyarakat untuk diberikan pemahaman serta rencana kegiatan pemicuan STBM yang dibantu oleh Fasilisator dari Dinas Kesehatan. Kegiatan ini dimaksudkan untuk pemberdayaan masyarakat agar dapat memliliki jamban yang sehat dan tidak membuang air besar sembarangan lagi. Setelah dilakukan pemicuan STBM dengan membuat pemetaan oleh masyarakat sendiri maka diketahui masih banyak yang belum memiliki jamban yang sehat yaitu sekitar 84 rumah.

Hidayat, Kepala Desa Gas Alam, berharap tahun ini semua rumah memiliki jamban sehat dan sudah bisa 100 persen bebas buang air besar sembarangan dan langsung bisa dimonitoring oleh pihak Puskesmas maupun Dinas Kesehatan.

gb3

Masyarakat suka cita membantu program jamban komunal STBM

Sementara itu Yuana fasilitator dari Dinas Kesehatan yang mendampingi kegiatan tersebut menjelaskan bahwa Kegiatan ini adalah inisiatif dari Pemerintah Desa setempat yang prihatin dengan masalah sanitasi terutama pada warga yang tinggal diatas rawa-rawa laut serta difasilitasi Puskesmas Muara Badak dan dibantu pembiyaan nya oleh pihak CSR setempat. Program yang dijalankan adalah membuat Jamban Komunal percontohan di beberapa lokasi, untuk satu jamban komunal dengan ukuran besar mampu menampung lima kepala kaluarga sedangkan yang ukuran kecil menampung tiga kepala keluarga. Jamban komunal yang terbuat dari beberapa tandon ukuran besar ini sudah dirancang untuk memproses tinja manusia  sehingga limbah akhir buangannya aman untuk lingkungan sekitar.(waa)

gb4

Jamban komunal untuk kapasitas kecil

DINKES KUKAR MANTAPKAN “SISTEM MANUAL RUJUKAN

br1TENGGARONG- Upaya mengatasi permasalahan dan pencegahan kematian ibu dan bayi di Kukar,  selama beberapa tahun terakhir belum membuahkan hasil yang maksimal. Angka kematian ibu bayi dan balita cukup tinggi di Kaltim, jika dibandingkan dengan Sembilan kabupaten/kota lainnya se-Kaltim.

“ Sampai saat ini angka kematian ibu hamil mencapai 18 orang, 63 bayi dan 9 Balita, ini terbilang sangat tinggi se-Kaltim, “ Kata Kadiskes drg Koentijo Wibdarminto, melalui Kasi Kesehatan Keluarga Sri Lindawati, saat menggelar pembahasan lanjutan penyusunan manual rujukan Maternal, Rabu(20/7) di hotel Grand Fatma Tenggarong.

Pertemuan penyusunan manual rujukan tersebut mengundang seluruh Puskesmas, Rumah Sakit, BPJS dan sektor terkait agar terjadi sinergitas dalam optimalisasi kegiatan operasional sistem manual rujukan yang akan dilaksanakan.

Namun Pokja Manual Rujukan ini memahami berbagai  kendala masih ditemukan, seperti, letak  geografis yang sangat jauh, minimnya pengetahuan masyarakat tentang kesehatan, keterlambatan pengambilan keputusan dalam tindakan, dan sulitnya transportasi, bahkan masih ada saja masyarakat yang percaya terhadap pengobatan Tradisional bersifat magis yang tidak memiliki standar kesehatan sama sekali. Dinkes juga menilai penyebab lainnya adalah belum berjalannya mekanisme rujukan yang baik.

“Kita menduga, penyebab kematian ibu dan bayi ketika sakit, karena sistem rujukan ke Puskesmas dan Rumah Sakit(RS) yang masih perlu pembenahan. Nantinya, dokumen rujukan ini selesai disusun maka petugas kesehatan bisa mengantisipasi tindakan yang akan diberikan kepada pasien ibu hamil dan anak, “ ujar Linda.

br2

Target dokumen maternal selesai Nopember mendatang, sehingga sudah bisa diterima oleh petugas kesehatan, bidan, puskesmas, dokter dan aparatur desa merasa masih perlu upaya yang lebih keras dalam menekan dan meminimalisir kematian tersebut, pada tahun-tahun mendatang, melalui penguatan system rujukan berjenjang. Untuk itu pihaknya sudah membentuk Kelompok Kerja (Pokja) penyusunan manual rujukan maternal Neonatal di Kukar.

“Pokja ini harus bekerja keras untuk merancang system rujukan yang menguntungkan bagi pasien, agar kematian ibu dan anak dapat diminimalisir, “ ujarnya.

Pokja perbaikan system rujukan ini bertugas, menyusun rencana kegiatan operasional, melakukan mapping sarana pelayanan kesehatan yang terkait rujukan serta menyusun draft manual rujukannya. Serta melakukan sosialisasi, uji coba dan perbaikan manual rujukan maternal neonatal. Mengembangkan mekanisme rujukan yang efektif dan efisien, dengan memperhatikan unsur utama keselamatan pasien.

Yang tidak kalah pentingnya Pokja ini juga mengembangkan jaring komunikasi data dan sistem informasi kesehatan berbasis media sosial serta kedepannya mengembangkan aplikasi informasi berbasis web. Jaring komunikasi yang dikembangkan ini , menciptakan akses komunikasi cepat antar fasyankes baik dari puskesmas sampai rumah sakit terdekat dalam situasi kegawatdaruratan persalinan. Untuk itu masing-masing puskesmas ditunjuk petugas operator yang mengendalikan setiap kasus terkait kegawatdaruratan pada kesehatan ibu dan anak.(ry/waa)

KUKAR SIAPKAN KONSEP SISTEM MANUAL RUJUKAN MATERNAL NEONATAL

IMG_20160209_144007ATASI PENYEBAB KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PENINGKATAN KECEPATAN DAN KETEPATAN TINDAKAN DI FASYANKES”TENGGARONG : Upaya mengatasi permasalahan kematian ibu dan bayi di Kutai Kartanegara selama beberapa tahun belakangan ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Selain kendala geografis, pengetahuan, keterlambatan pengambilan keputusan dan sulitnya transportasi juga disebabkan oleh belum berjalannya mekanisme rujukan yang baik. Hal ini dikatakan oleh Ismi Kepala Bidang Yankes saat memimpin rapat awal Tim Pokja Penyusunan Manual Rujukan Maternal Nonatal di RSUD AM, Parikesit Tenggarong. (5/2)ATASI PENYEBAB KEMATIAN IBU DAN BAYI DENGAN PENINGKATAN KECEPATAN DAN KETEPATAN TINDAKAN DI FASYANKES”TENGGARONG : Upaya mengatasi permasalahan kematian ibu dan bayi di Kutai Kartanegara selama beberapa tahun belakangan ini belum membuahkan hasil yang maksimal. Selain kendala geografis, pengetahuan, keterlambatan pengambilan keputusan dan sulitnya transportasi juga disebabkan oleh belum berjalannya mekanisme rujukan yang baik. Hal ini dikatakan oleh Ismi Kepala Bidang Yankes saat memimpin rapat awal Tim Pokja Penyusunan Manual Rujukan Maternal Nonatal di RSUD AM, Parikesit Tenggarong. (5/2)

Read more