Menkumham Buka Festival Kesenian Rakyat EIFAF 2017

Tenggarong – Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia Yasonna H. Laoly Membuka acara pesta rakyat Erau Internasional Folklore and Art Festival (EIFAF) 2017. Kali ini, EIFAF disandingkan dengan perhelatan budaya tradisional dari berbagai negara. Berbagai kesenian dan tradisi di lingkup Kesultanan Kutai bersanding dengan kebudayaan dari berbagai negara. Ajang ini sekaligus memperkenalkan peninggalan kearifan lokal masyarakat Kutai kepada dunia. EIFAF 2017 ini  ini dimeriahkan 8 peserta dari berbagai negara yakni Slowakia, Bulgaria, Polandia, Thailand, China, India, Jepang dan Korea Selatan.

Diawali dengan menyalakan 7 buah brong atau obor oleh menkumham bersama beberapa pejabat dan tokoh diantaranya Bupati Kutai Kertanegara Rita Widyasari, Dubes Seychelles Nico Barito, Ketua DPRD Kaltim HM Syahrun dan Putera Mahkota Kesultanan Kutai HAP Adipati Praboe Anoem Soerya Adiningrat menandai awal dimulainya acara pesta tersebut. Sementara itu bertempat di Stadion Rondong Demang Tenggarong parade peserta EIFAF memakai pakaian adat, alat musik dan atraksi seni. Selama gelaran parade, disuguhi pertunjukan tari selamat datang Ganjar Ganjur dan Topeng Kemindu dari Keraton Kesultanan Kukar ing Martadipura.

Pada acara tersebut dalam sambutannya saat membuka acara, menkumham mengatakan bahwa berlangsungnya Kesenian rakyat Erau Adat Kutai 2017 ini merupakan wadah untuk memberi ruang bagi para penggiat seni budaya daerah, sehingga keberadaan aktualisasi budayanya dapat diterima secara universal. Menkumham mengajak  kepada segenap seniman daerah, yang telah membuat karya cipta seni seperti lagu, tari, seni lukis, dan seni rupa untuk mendaftarkan karya seninya serta memperoleh sertifikat HAKI, agar karyanya tidak diakui maupun disalahgunakan oleh pihak-pihak lain.

Menkumham juga juga berharap agar Pemerintah Daerah melalui instansi terkait secara aktif mensosialisasikan dan melakukan fasilitasi registrasi HAKI di Kementerian Hukum dan HAM. “Ini adalah salah satu bentuk perlindungan terhadap ekspresi budaya tradisional yang dilakukan oleh Pemerintah Republik Indonesia agar tidak diakui oleh negara lain dan obyek HAKI adalah karya, ciptaan, hasil buah pikian, atau intelektulita manusia”, Ucap yasonna, Minggu (23/7) di Stadion Rondong Demang Tenggarong.

Diakhir sambutannya Menkumham mengatakan bahwa hal bahwa festival budaya dapat menjadi perekat bagi semua pemangku kepentingan budaya, baik dari unsur Pemerintah, masyarakat, akademisi, komunitas, dan media. “Festival Budaya ini akan menjadi daya tarik wisata berbasis budaya yang akan memberi dampak positif bagi peningkatan dan pertumbuhan ekonomi masyarakat setempat dan sekitarnya”, Tambah Menkumham.

Pada kesempatan yang sama, Bupati Kutai Kartanegara (kukar) Rita Widyasari mengaku optimis mampu mengangkat sektor pariwisata Kukar menjadi salah-satu andalan di sektor pariwisata di Kalimantan Timur. “Saat ini kunjungan wisatawan ke Kukar tiap tahunnya mencapai 1,9 juta orang dari yang sebelumnya hanya mencapai 250 ribu orang,” kata Rita Widyasari.

Pada acara tersebut Menkumham mendapatkan gelar Kesultanan Pangeran Anom Suranegara dari Kesultanan Kutai Kertanegara. Gelar kehormatan tersebut di berikan pada upacara adat mendirikan Ayu oleh Sultan Kartanegara Ing Martadipura yang berlangsung di Keraton Museum Mulawarman.

Peresmian Dayak Experience Center

Pada hari Jum’at (20/5) Wakil Bupati Kutai Kartanegara Edi Damansyah meresmikan Dayak Experience Center ( Pusat Informasi Budaya Dayak) satu dari tiga lamin yang berada di objek wisata di Pulau Kumala tepat nya di Amin Bioq yang merupakan rumah adat suku Dayak Kenyah.
Peresmian Dayak Experience Center ditandai dengan pemotongan tali dengan sebilah Mandau yang dilakukan oleh wakil Bupati Kukar Edi Damansyah yang disaksikan oleh para undangan lainnya, dilanjutkan dengan peninjauan pameran, di Amin Bioq sendiri menampilkan Alat-Alat rumah tangga, pakaian adat, perlengkapan upacara adat, peralatan tenun, peralatan musik tradisional, peralatan berburu dan perang serta aksesoris lainnya yang lajim digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Peresmian Dayak Experience Center

Dalam sambutannya Wakil Bupati Kukar berharap Dayak Experience Center bisa dijadikan Pusat informasi dayak di Pulau Kumala dan dikelola dengan baik. Jadi setiap orang yang berkunjung ke Pulau Kumala bisa mengetahui budaya dayak di kukar, bahkan di Kalimantan Timur, ia meminta agar pengelola memiliki semangat dan integritas tinggi sehingga maksud dan tujuan bisa terwujud. Kreatifitas dan inovasi memanfaatkan ruang dan zona di kawasan akan menjadikan Pulau Kumala sebagai salah satu daya tarik wisata yang berdaya saing tinggi, terlebih antusiasme pengunjung untuk menikmati sensasi melintasi Jembatan Repo-Repo semakin meningkat.

Semantara itu Kepala Dinas Kebudayaan Dan Pariwisata Kukar Sri Wahyuni mengatakan Dayak Experience Center merupakan Pusat Informasi Budaya Dayak, menggunakan bangunan rumah panjang dayak kenyah, yang berisi informasi budaya, yang menggambarkan kehidupan sosial budaya tujuh etnis dayak yang bermukim di wilayah Kukar, yakni Benuaq, Tunjung, Basap, Bahau, Modang, Kenyah dan Punan, Dayak Experience Center menghadirkan informasi dan benda dari lima etnis Dayak, yakni Benuaq, Tunjung, Modang, Kenyah dan Punan. Sedangkan informasi budaya dan benda dayak Bahau dan Basap akan dilengkapi kemudian.

2. Peresmian Lamin Bioq 4

Dayak Experience Center sebagai wadah edukasi budaya dayak, khususnya di Kukar, diharapkan menjadi objek wisata budaya di Pulau Kumala, sekaligus sumber pendapatan  asli daerah (PAD). Launcing Dayak Experience Center dilaksanakan untuk memperingati hari Budaya Kukar 2016 sekaligus realisasi program capaian 100 hari gerbang raja II melalui program Jonok Ngan Kukar, pungkasnya.

4. Peresmian lamin Bioq5

Kegiatan itu dirangkai dengan penandatanganan kerjasama ( MOU) antara Disbudpar Kukar dengan Dinas Pendidikan Kukar, tentang program kunjungan pelajar ke objek wisata dan budaya kukar, dalam upaya mengenalkan budaya dan daya tarik wisata Kutai Kartanegara.